Tentang Evaluasi

Sahabat-sahabat sekalian yang insya Allah selalu merindukan ridho Allah SWT, tentunya yang ada di sini adalah para aktivis atau pegiat-pegiat lembaga semasa di kampus (atau yang sudah lulus mantan aktivis lembaga). Seperti Aktivis Lembaga Dakwah Kampus (ADK), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), HMJ atau HIMA berbasis kedaerahan, dsb.

Tentunya dalam menggerakkan lembaga-lembaga  tersebut menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang umum digunakan seperti POACE (Planning, Organizing, Actuating, Controlling, and Evaluating), atau juga menggunakan prinsip manajemen yang lainnya. Saya yakin sobat-sobat yang sedang membaca tulisan ini sudah khatam dengan hal tersebut sehingga saya tidak perlu menjelaskan lagi yak..

Oke, kali ini saya akan sedikit membahas teraikit proses terakhir dari POACE yakni evaluasi. Jika ingin menghitung, entah sudah berapa kali kita telah melakukan evaluasi selama berada di lembaga yang kita sebagai salah satu pemain di dalamnya, tentunya akan terhitung banyak sekali. Mulai dari evaluasi kajian A, seminar B, diskusi C, dsb . bahkan evaluasi dalam skala lebih luas biasanya ketika mengikuti Musyawarah Besar (Mubes) yang dimana didalamnya juga turut membahas AD/ ART organisasi kita dalam satu tahun ke depan. Tidak sedikit (menurut pengalaman saya, semoga yang lain tidak. heheh) menganilisis sangat mendalam sebuah poin dalam ART sampai lupa untuk makan dulu. #lebayModeON namun setelah itu ketika sudah ada revisi atau perbaikan jarang dibuka lagi, bahkan yang paling mencengangkan akan dibuka kembali pada Mubes periode berikutnya.🙂

Dalam teori manajemen jepang, kita mengenal ada sebuah prinsip evaluasi yang orang jepang menyebutnya kaizen. Kaizen pertama kali diperkenalkan oleh Masaaki Imai, seorang pakar produktivitas jepang. Kaizen berarti perbaikan secara terus menerus (sustain). Jika telah melakukan sesuatu, atau membuat suatu produk maka akan dievaluasi kemudian akan dilakukan perbaikan dimana terdapat evaluasi. Kaizen sendiri berorientasi pada proses yang dijalani, bukan pada hasil apa yang didapat. Dan mungkin hal ini salah satu prinsip yang digunakan orang jepang, sehingga mereka saat ini sampai pada peradaban yang modern, berteknologi tinggi, dan tentunya makmur secara materi.

Sebenarnya prinsip kaizen sudah tertuang dalam Al-qur’anul karim “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (At-Taubah : 105). Ayat ini menegaskan bahwa tugas kita adalah hanya bekerja, adapun hasil yang didapat adalah domain dari Allah swt. Yang terpenting adalah bekerja, itu. Bahkan jauh sebelum bangsa jepang dan prinsip kaizennya ada, Rasululloh SAW mengingatkan kita untuk selalu mengevaluasi diri. Dalam sabdanya “barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka ia termasuk orang beruntung, jika hari ini sama dengan hari kemarin maka termasuk orang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia termasuk orang yang celaka”.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa mengevaluasi (muhasabah), untuk diri sendiri, untuk organisasi kita, dll. Jangan sampai evaluasi yang kita lakukan hanya sebatas seremonial untuk mengetahui kelemahan kita, namun tidak ada upaya untuk memperbaikinya. Semoga.

 

Posted on September 16, 2014, in Mahasiswa dan Dakwah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: