Nilai Pas-Pasan Dapat Beasiswa ? Mungkinkah ?

Pasti banyak yang bertanya, apakah mungkin mendapatkan beasiswa ke luar negeri dengan nilai yang pas-pasan ?

Melalui satu pertanyaan diatas, saya ingin bercerita tentang pengalaman diri saya pribadi yang diharapkan dapat menambah semangat teman-teman yang sedang mencari kesempatan beasiswa. Ya, saya tidak malu untuk mengatakan bahwa nilai saya sebelumnya memang pas-pasan. Tetapi, pada kenyataannya hal itu tidak menutup jalan saya mendapatkan beasiswa, salah satunya untuk mengenyam pendidikan di University of Glasgow, United Kingdom, dengan mendapatkan pembebasan biaya kuliah selama menempuh sekolah tingkat master ini.

Tidaklah perlu berkecil hati bagi teman-teman yang memiliki permasalahan yang sama dengan saya, dimasa perkuliahan. Menurut saya, nilai pas-pasan bukan berarti itu bodoh, tetapi mungkin saja ada sesuatu hal yang mempengaruhi dibalik itu, seperti waktu dan konsentrasi yang terbagi dengan kegiatan lain, yang akhirnya menyita waktu untuk belajar. Tentu hal ini dapat dijadikan menjadi satu pendorong semangat dalam menemukan cara untuk meningkatkan kemampuan dan potensi diri sisi non-akademis. Yup, memang betul nilai akademis sangatlah penting, akan tetapi, ada banyak hal-hal lain yang dapat dijadikan nilai plus bagi diri kita. Disamping itu persiapan mental dan aplikasi yang matang adalah beberapa catatan penting lainnya dalam proses pengajuan beasiswa tersebut.

Asah potensi diri dengan berorganisasi

Memang terlihat sepele dan membuang waktu untuk bergabung dalam kegiatan berorganisasi pada saat kita sedang menjalankan perkuliahan. Kegiatan organisasi terkesan menyita waktu dan tenaga untuk belajar, atau bahkan bermain. Yap, memang perlu meluangkan waktu, tenaga dan fikiran ketika memutuskan untuk ikut aktif dalam kegiatan organisasi, baik dalam organisasi kemahasiswaan, non-akademik, ataupun sekedar volunteering. Tanpa disadari, selama berjalannya waktu, banyak sekali nilai yang penting yang dapat kita peroleh dari berorganisasi sebagai pelajaran hidup kedepan kelak. Adalah manajemen waktu, kepemimpinan, manajemen stres, bersosialisasi, bekerjasama, belajar mengatasi masalah dan bertoleransi terhadap perbedaan pendapat, merupakan hal-hal yang tidak kita dapatkan melalui bangku sekolah. Bisa saya katakan bahwa kemampuan-kemampuan inilah yang menjadi nilai tambah bagi kita dalam proses pengajuan dan penilaian aplikasi beasiswa. Hal ini karena pemberi beasiswa tidak hanya melihat potensi akademis saja, tetapi juga kemampuan seseorang dalam menghadapi dan menyikapi banyak hal yang akan kita hadapi. Semakin banyak pengalaman kalian beroganisasi, semakin besar kesempatan untuk meningkatkan potensi diri.

Be expert disatu kajian ilmu pengetahuan

Lainnya adalah, be expert disatu kajian ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, alangkah lebih baik jika teman-teman memiliki satu keahlian khusus dan pengetahuan yang sangat mendalam pada satu kajian ilmu pengetahuan – hal ini dikaitkan dengan tujuan untuk mendapatkan kesempatan sekolah ke jenjang berikutnya dengan beasiswa. Tentunya hal ini akan jauh lebih menarik jika pengkhususan tersebut merupakan pengetahuan yang teman-teman gemari untuk digeluti, sebut saja studi pembangunan atau hukum internasional. Dengan demikian, pengkhususan dalam satu kajian ilmu pengetahuan tersebut akan menghantarkan pola fikir kita yang akan terus berhubungan dengan hal tersebut, sehingga kita akan expert dibidang itu. Yap, sekali lagi, ini akan memberikan dampak yang positif jika teman-teman nanti mengajukan proposal beasiswa. Dengan modal ini, teman-teman dapat memberikan nilai yang lebih dalam memberikan informasi tujuan untuk menempuh pendidikan jenjang berikutnya dan apa yang hendak dicapai setelah lulus.

Setelah tuntas mempersiapkan dan mengasah diri, kemudian sekarang saatnya ‘perang’ dalam pengajuan aplikasi beasiswa. Perlu diingat oleh teman-teman bahwa kesempatan beasiswa itu sangatlah banyak jumlahnya, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia. Oleh sebab itu, jangan malas untuk terus mencari tahu informasi tersebut dari mana saja, seperti international office di universitas, mailing-list beasiswa, sekeliling kita yang pernah mendapatkan beasiswa, lembaga pemberi beasiswa itu sendiri, kumpulan cerita-cerita penerima beasiswa yang dibukukan atau bahkan informasi-informasi lain yang didapatkan melalui online. Informasi tersebut dapat berupa nama-nama pemberi beasiswa; apa saja yang ditawarkan; siapa saja target penerima beasiswa; dan, yang terpenting, apa saja persyaratannya.

Proses pengajuan aplikasi

Dalam proses pengajuan aplikasi, sejak awal yang harus dicamkan dalam diri kita adalah niat dan keteguhan, serta dedikasi waktu dan tenaga untuk mempersiapkan dan memenuhi persyaratan-persyaratan. Hal ini utama karena tidaklah mudah bagi seseorang untuk mendedikasikan waktu dan tenaga, dan kegigihannya jika menghadapi hambatan-hambatan selama proses ini. Tidak itu saja, timbul pertanyaan berikutnya, bagaimana kalau belum berhasil? Gagal bisa saja terjadi kan? Namun, perlu disadari bahwa kegagalan harus dijadikan sebagai acuan untuk mengetahui dimana letak kelemahan sebelumnya, apalagi dengan kondisi nilai yang pas-pasan seperti ini. Sekedar bercerita, berkali-kali saya mengajukan permohonan beasiswa, tidak terhitung pula aplikasi saya ditolak. Dan, disinilah arti kegigihan itu diuji.

Surat motivasi

Luangkan banyak waktu untuk mempersiapkan dan membuat surat motivasi, atau yang biasa disebut Motivation Letter atau Personal Statement. Tidak lain dan tidak bukan, bahwa inilah surat berharga pada saat proses screening pertama. Alokasikan fikiran dan waktu untuk dapat merumuskan isi dari surat tersebut, yang sebagian besar isinya adalah tentang mengapa ingin melanjutkan sekolah; kenapa ambil jurusan yang dituju; pengalaman apa saja yang relevant; apa saja yang bias dilihat sebagai kelebihan diri teman-teman dibanding calon beasiswa lainnya; dan kontribusi apa yang akan dilakukan setelah lulus. Jika teman-teman telah memenuhi seperti yang saya ceritakan diawal, tentunya hal tersebut akan membantu teman-teman dalam membuat dan melengkapi surat motivasi ini, karena apa-apa yang teman-teman tulis merupakan refleksi dari tujuan dan pengalaman, serta informasi yang dimiliki sendiri.

Persiapkan diri dengan matang jika waktu wawancara telah tiba. Lagi, pengalaman teman-teman berorganisasi akan sangat terasa disini. Kecakapan berbicara, mengatasi tekanan, mengajukan serta mempertahankan pendapat, dan bercerita tentang pengalaman berorganisasi atau kerja (bagi yang sudah bekerja), akan sangat terlihat dalam proses ini. Tidak perlu gugup, anggap saja sesi wawancara tersebut sebagai tempat untuk menceritakan tujuan teman-teman dalam beberapa waktu kedepan. Percaya diri adalah kuncinya. Percaya diri dapat ditingkatkan melalui menguasai apa yang ditulis dalam surat motivasi dan kemampuan berbicara, dengan begitu pasti teman-teman akan mampu untuk menjawab dengan baik apa yang ditanyakan oleh penguji.

Jadi, ingat:

  • Persiapkan diri dan asah potensi diri sejak dini;
  • Buka mata dan telinga untuk mendapatkan informasi beasiswa;
  • Lihat, persiapkan penuhi persyaratannya;
  • Dedikasi waktu dan tenaga untuk motivation letter;
  • Tingkatkan kepercayaan diri untuk sesi wawancara; dan
  • Doa, doa dan doa. Setiap orang punya rencana, tapi hanya Tuhan yang Maha Kuasa-lah yang menentukan jalan yang terbaik.

Tulisan ini hanyalah untuk mengguggah dan menyemangati teman-teman yang memiliki nilai yang pas-pasan untuk terus berusaha mendapatkan beasiswa. Begitupun dengan diri saya pribadi yang tidak henti-hentinya untuk terus meningkatkan kapasitas, kualitas dan kemampuan diri saya. Setelah menyelesaikan pendidikan di Inggris Raya, saya harus langsung angkat koper lagi menuju Jerman untuk menempuh program beasiswa dari pemerintah Jerman. Oleh karena itu, mari teman-teman tidak perlu berkecil hati, karena pada hakikatnya beasiswa itu tersedia untuk meningkatkan kemampuan para pelajar untuk lebih baik lagi dari sisi akademis maupun non-akademis. Dengan demikian, diharapkan, bangsa dan negara memiliki para generasi muda yang berkualitas dan mampu mengikuti perkembangan jaman. Semangat !!

Jadi, pertanyaan diatas tadi dapat dijawab: YA, SANGAT MUNGKIN.

Ardhilla Parama Arta
*) Master, Finance and Economic Development, University of Glasgow
1. Vice President PPIUK 2011/2012
2. Ketua Salemba Centre for International Studies, Universitas Indonesia
3. Beasiswa:
‘University of Glasgow Country Scholarship’, UK. Master Degree: Finance and Economic Development (2011)
‘Deutscher Akademischer Austaush Dienst’ (DAAD), Germany. Applied Master: Development Management (2012)

 

Sumber : mahasiswa.miti.or.id

Posted on Agustus 23, 2014, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: