Core Baru Gerakan Mahasiswa

Demo 98

Gerakan mahasiswa di Indonesia sebenarnya telah hadir sejak lama. Sehingga kita mengenal banyak gerakan mahasiswa sesuai dengan periode ketika itu. Mulai dari gerakan mahasiswa tahun 1966 atau disebut dengan gerakan mahasiswa angkatan 66, gerakan mahasiswa angkatan 72, gerakan mahasiswa 80 an, gerakan mahasiswa 90 an, hingga yang masih segar dalam ingatan kita adalah gerakan mahasiswa 98 yang berhasil menurunkan rezim orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Pertanyaanya : bagaimana dengan gerakan mahasiswa sekarang ?

Kultur mahasiswa sekarang tentunya berbeda dengan mahasiswa jaman dulu. Ambil contoh yang paling dekat dengan kita yakni ketika jaman 90-an . Pada era ini kultur mahasiswa, lebih mencolok pada sisi sosial politik, mahasiswa pada berbagai kampus di tanah air banyak melakukan diskusi dan kritik terhadap pemerintah. Mahasiswa banyak yang melakukan demonstrasi. Pengaruh yang terjadi pada progresifitas mahasiswa ketika itu, yakni kurang memperhatikan dalam sisi akademik mereka. Banyak aktivis yang IP-nya jeblok, tidak mengusai kompetensi sesuai dengan jurusan masing-masing, bahkan yang lebih parah banyak mahasiswa yang akhirnya DO dari kampus. Walaupun ada juga mahasiswa yang aktif dalam aktivisme mahasiswa namun mereka juga oke pada sisi akademiknya.

Namun seiring berjalannya waktu, mahasiswa sekarang cenderung lebih pragmatis. Yakni mahasiswa masuk ke kampus dengan orientasi belajar dengan baik, IPK bagus, lulus cepat, kemudian bekerja. Sudah jarang kita melihat mahaiswa yang aktif berorganisasi di berbagai unit yang tidak ada hubungan dengan untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam hal akademik.

Gerakan mahasiswa sekarang meimiliki core / fokus yang berbeda dengan gerakan mahasiswa masa lalu, yakni sebagai berikut :

  1. Berbasis pada kompetensinya
  2. Memberikan pilihan solusi secara rasional dengan dasar kompetensinya
  3. Aksi nyata dengan karya intelektual dan upaya masuk dalam wilayah operasional dalam  sektor kehidupan paska kampus
  4. Melakukan mobilitas vertikal berdasar kompetensi dan profesionalitasnya.

Dari 4 ciri yang disebutkan di atas tercermin pada lembaga-lembaga keilmuan mahasiswa di kampus. Seperti di UGM memiliki Kelompok Studi Mahasiswa sesuai dengan jurusan masing-masing yang ada di setiap fakultasnya. Di UGM juga memiliki UKM keilmuan tingkat universitas yakni UKM Gama Cindekia (GC). Selain UGM, kampus-kampus di beberapa kampus juga memiliki UKM keilmuan. IPB memiliki Forces, UNDIP di tingkat universitas ada Research and Development (RnB), Universitas Jambi punya EXIST pada tingkat universitas, di STMIK AMIKOM Yogyakrta juga memiliki KRETA, dan lain sebagainya  yang ada di berbagai kampus di Indonesia.

Pada lembaga-lembaga tersebut, bukan hanya sisi keorganisasian saja yang diasa, namun pada sisi akademiknya juga. Hal ini terbukti pada kader-kader yang menjadi jebolan kelompok studi  berhasil meraih prestasi seperti predikat mahasiswa berprestasi, memenangkan lomba-lomba ilmiah pada skala nasional seperti PKM, PIMNAS, LKTI, English Debater,  dll.

di era sekarang dan yang akan datang, gerakan mahasiswa akan terfokus pada bidang akademik. Unit atau kelompok studi akan diminati oleh mahasiswa ketika masuk kampus.

Salam akademisi mahasiswa Indonesia !!!

Posted on Februari 26, 2014, in Mahasiswa dan Dakwah, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. plus2 pengabdian keren lagi, ikutan proyek2 sensei..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: