Willpower

Roy Baumeister dalam bukunya yang berjudul Willpower – Rediscovering the Greatest Human Strength, menulis : willpower itu ternyata punya prinsip kerja seperti reservoir (semacam cadangan air dalam tangki). Jadi bayangkan, willpower kita itu bekerja seperti simpanan air dalam botol. Dan studi yang dilakukan Baumeister menunjukkan, cadangan willpower itu terkuras dengan cepat saat kita dihadapkan pada tantangan sehari-hari yang selalu menerpa kita.

Tantangan rutin seperti : menelusuri kemacetan di jalanan, disergap berita-berita buruk yang terus mengalir, menghadapi beban pekerjaan yg menumpuk; semuanya membuat cadangan willpower mudah menguap. Dan sayangnya, willpower dalam tubuh kita tidak bisa dibagi-bagi per jenis tantangan. Misal : cadangan willpower yang ini untuk menghandle kemacetan, yang bagian satunya lagi untuk mengelola beban kerja yang menumpuk, dan satunya lagi dialokasikan untuk mengelola tugas-tugas tambahan.  Tidak, willpower dalam tubuh manusia tidak bisa dikapling-kapling seperti itu. Begitu otak kita dibebani stress karena macet/sekolah/kerjaan/gaji kurang, maka reservoir willpower dalam tubuh kita langsung menguap karena habis terpakai. Apa artinya? Tak lagi tersisa willpower yang amat dibutuhkan untk mewujudkan tekad dan rencana mengubah nasib. Sebab cadangan willpower yang terbatas itu, sudah “terserap habis” untuk meng-handle beragam tantangan hidup tadi (kemacetan di jalanan, beban pekerjaan, mikir gaji yang terus kurang, dst). Dengan kata lain, tekad kuat untk melakukan ini dan itu lenyap karena cadangan willpower sudah keburu habis. Itulah kenapa rencana indah Anda lebih sering hanya akan jadi angan belaka.

Pertanyaannya : lalu bagaimana caranya agar cadangan willpower kita tetap penuh (seperti air dalam botol yang selalu penuh)? Dan tidak terbuang sia-sia?Tidak ada jalan yang mudah. Beberapa diantaranya mungkin layak dipertimbangkan.Langkah Pertama : hindari berita-berita/informasi yang hanya menguras emosi dan negative mindset. Studi -studi tentang perilaku menulis : berita/informasi yang menyulut emosi mudah sekali menguras cadangan willpower kita. Sering tanpa kita sadari. Membaca atau menyimak berita yang menyulut emosi seperti membuang willpower kita yang amat berharga ke tempat yg sia-sia.

Langkah Kedua : hindari jalanan yang macet. Oke, bagian yang ini mungkin tak mudah bagi yang bekerja dan tinggal di kota-kota besar. Namun studi yang dilakukan Gallup menyebut : kemacetan di jalanan merupakan salah satu media yang ampuh untuk menguras energi willpower manusia. Kemacetan membuat begitu banyak cadangan willpower tumpah di jalanan dengan sia-sia. Dari studi tersebut mungkin muncul sebuah korelasi yang muram dan mengejutkan : tingkat motivasi seseorang sesungguhnya amat dipengaruhi oleh derajat kemacetan jalanan yang ia hadapi. Bekerja dari rumah, atau pindah ke kampung halaman yang relatif sepi; adalah langkah terbosan yang barangkali kudu dengan berani dilakukan. Demi menjaga agar cadangan willpower tidak tercecer di jalanan dengan sia-sia.

Langkah ketiga : rutin berolahraga ternyata punya impak positif bagi upaya memelihara willpower (demikian sejumlah studi yang termuat dalam buku Baumeister tadi). Rutin olahraga artinya minimal 4 kali dalam seminggu berolahraga selama 30 menit. Semua sudah tahu dampak positif olahraga bagi kesehatan jasmani. Yang belum banyak diungkap : secara mengejutkan, rutin olahraga juga punya dampak signifikan bagi “ketangguhan willpower dan motivasi” seseorang. Orang yang rutin olahraga terbukti tidak mudah menyerah, dan lebih sanggup memelihara level motivasinya dalam jangka lama dibanding yang malas olahraga. Rutin olahraga barangkali jauh lebih ampuh untuk memelihara motivasi seseorang dibanding ikut sepuluh kali seminar motivasi oleh para motivator.

Langkah keempat atau terakhir : rutin bangun saat fajar belum menyingsing, dan lalu melakukan ritual bersyukur pada Sang Ilahi; juga terbukti efektif untuk menjaga willpower (kekuatan tekad). Dalam tradisi Islam, ritual ini mungkin berujud dalam bentuk shalat Tahajud. Studi yang dilakukan Sonya Lyubormisky (2007) menyebut fakta : rutin melakukan ritual bersyukur (gratitude ritual) saat keheningan pagi/fajar, terbukti membuat seseorang lebih tangguh dalam menjaga willpower.

Disarikan dari buku yang berjudul “Willpower – Rediscovering the Greatest Human Strength” Karya : Roy Baumeister. Thanks to mas Yodhia Antariksa.

Sumber : Kiki Yulianto

Posted on Januari 29, 2014, in Mahasiswa dan Dakwah and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: