Antara Konsep dan Penerapan Praktis

Research
Salam akademisi… Dapat cerita inspiratif dari Pak Sunu Wibirama. Dosen dan juga peneliti bidang Computer Vision.

Apakah seorang mahasiswa postgraduate mesti memiliki kemampuan teknis tertentu?

Pertanyaan ini sering muncul di antara rekan-rekan alumni yang ingin melanjutkan pendidikan Master (S2). Kalau Anda bertanya kepada saya dalam konteks ilmu sains dan teknologi, maka jawabannya adalah : YA! Jika Anda adalah seorang alumni S1 dalam bidang engineering (rekayasa), maka jawaban YA ini menjadi lebih tegas. Kemampuan seorang engineer dibandingkan seorang saintis murni adalah dalam hal rekayasa dan menemukan sesuatu yang applicable. Dengan demikian, seorang engineer juga dituntut untuk senantiasa mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu terbaru dan menguasai penerapan teknisnya sekaligus.

Tentu hal ini bukanlah hal yang mudah. Menguasai perkembangan ilmu terbaru bisa diartikan rajin membaca hasil penelitian yang beredar di internet maupun di forum-forum yang lebih resmi (semacam IEEE misalnya). Menguasai penerapan teknis bisa diartikan menguasai bagaimana mengimplementasikan konsep tersebut secara nyata dalam sebuah aplikasi atau simulasi. Sayangnya, beberapa insiden buruk sering saya jumpai selama perjalanan kuliah saya. Pernah saya menjumpai beberapa mahasiswa PhD yang tidak “benar-benar serius” mengerjakan risetnya. Saya berbaik sangka bahwa mereka memang benar-benar sibuk dengan pekerjaan mereka sehari-hari, untuk menyambung hidup tentunya. Namun demikian, ada sesuatu yang menyedihkan. Ya, mereka menyewa jasa orang lain untuk menyelesaikan thesis mereka dan ilegal. Ilegal dalam arti, mereka bukanlah seorang siswa Industrial PhD dimana riset adalah bagian dari pekerjaan dan pelimpahan wewenang menjadi tidak sah dalam hal ini. Mereka adalah murni PhD yang bekerja di lab. Mereka mengirim pekerjaan mereka ke pusat-pusat software developing, entah itu di internet maupun secara langsung kontak ke pihak yang bersangkutan. Setelah pekerjaan itu selesai, para mahasiswa doktoral ini dengan santai menulis laporan dan mempresentasikannya.

Sering saya merenungi peristiwa ini, apakah para mahasiswa itu tidak memiliki kemampuan teknis sedikit pun? Atau, apakah memang mereka hanya ingin mendapatkan gelar saja tanpa perjuangan berat?  Satu hal yang saya dapatkan dari kasus-kasus seperti ini: butuh sebuah persiapan matang untuk melanjutkan ke jenjang S3. Apalagi sebagian besar mahasiswa S3 benar-benar melakukan riset mandiri, tanpa dibimbing secara intens oleh Professor. Jika memang hal ini yang terjadi, bersiaplah. Kemampuan teknis akan sangat membantu pekerjaan kita, setelah kita berpusing-pusing mencerna konsep yang akan diterapkan dalam riset kita.

Source : http://splashurl.com/m4yf8e4

Posted on November 8, 2013, in Artificial Intelligence, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: