MENDEWASAKAN DIRI DENGAN LINGKUNGAN

MENDEWASAKAN DIRI DENGAN LINGKUNGAN

Saiful Bahri

Sejarah kemanusiaan akhirnya merekam dengan obyektif bahwa orang-orang yang ada di sekeliling Nabi Muhammad saw menjadi orang besar yang produktif. Al Qur’an kadang membahasakannya dengan rijâl sebagai ilustrasi peran tokoh (lihat QS. An-Nur : 37, QS. Al-Ahzab: 23) sesekali dibahasakan dengan khaira ummah/sebaik-baik umat (lihat QS. Âli Imrân: 110). Orang-orang ini bukan saja menjadi orang penting tapi mereka menjadi manusia yang benar-benar merasa dimanusiakan oleh Rasulullah saw. Tak heran bila kemudian mereka menjelma menjadi tokoh besar yang siap memimpin peradaban.

Lihat saja Abu Bakar ra. yang tegas meredam ancaman disintegrasi dan pengkhianatan internal. Umar bin Khattab ra. menjelajah dengan berbagaifutuhât di depan berbagai imperium adidaya waktu itu. Usman ra sang entrepreneur sukses yang meneruskan perjuangan pendahulunya. Pun Sang Pintu Ilmu, Ali bin Abi Thalib ra juga mampu tetap eksis di tengah guncangan prahara dan fitnah.

Mereka dan juga orang-orang di sekeliling Nabi Muhammad saw menemukan potensi kebaikannya yang kemudian dioptimalkan dengan baik menjadi ledakan prestasi yang dahsyat. Prestasi yang menghusung ruh manfaat bagi sesama. Bila kita mencerna dengan teliti mereka, para sahabat ini lahir dan tumbuh di tengah masyarakat yang sangat tidak kondusif. Bahkan sebagian orang terlalu mendramatisirnya sehingga seolah tak ada secuil pun potensi kebaikan pada zaman itu.

Dari zaman itulah sang murabbi umat ini dilahirkan. Al-Amin yang kemudian ditugaskan sebagai nabi ini terus bersemangat untuk menyulut semangat kebaikan di tengah masyarakat yang sering dibahasakan dengan jahiliyah yang keterlaluan. Dan jerih payah ini tak sia-sia. Beberapa orang yang beriman dengan risalahnya kemudian menjadi pilar solid dakwah yang menjadi basis pengembangan Islam di kemudian hari di Madinah.

Dengan kegigihan dan kesabaran, Nabi Muhammad saw pun terus berharap akan lahir generasi yang beriman kepada risalah Allah yang keluar dari generasi yang saat itu menindas beliau bahkan memperlakukan beliau tidak seperti manusia; dicaci, dicerca, dilempari dengan apapun, disakiti fisik dan perasaannya. Namun, beliau sadar bahwa perbaikan sosial tidaklah seperti permainan sulap yang bisa menyenangkan penonton. Juga tidak seperti membangun sebuah bangunan. Karena yang sedang dibangun adalah bangunan mental, pembinaan pandangan hidup yang mengalami disorientasi tentang pemaknaan terhadap Tuhan. Sehingga dalam kondisi masyarakat yang seburuk apapun masih ada yang bisa diharapkan untuk dicari potensi kebaikannya. Sekecil apapun itu. Toh, bukit dan gunung pun terdiri dari butiran-butiran pasir dan kerikil yang kecil.

Hasilnya? Seperti yang kita lihat saat ini, juga bisa kita buka-buka lembaran-lembaran sejarah.

Dan kita –meski tidak sedang mengiaskan keadaan di atas– sudah selaiknya kita menelaah diri dalam skup mikro sekalipun. Terhadap kondisi sosial masyarakat kita. Masyarakat yang ada di sekeliling kita. Dengan kondisi apapun di sekeliling kita sudah selaiknya kita berpikir positif. Jika masyakat kita sudah baik, maka menjadi kewajiban kita untuk meningkatkan potensi kebaikan tersebut serta memaksimalkan sinergi peran tersebut. Jika dalam prakteknya kita menemukan sesuatu yang sebaliknya setidaknya kita perlu melakukan dua tindakan. Pertama, tindakan proteksi terhadap diri kita dengan meningkatkan imunitas keshalihan kita. Yang kedua, sebisa mungkin kita memperbaiki keadaan sesuai jangkauan kita. Orang-orang yang bisa kita ajak kerja sama untuk memperbaiki lingkungan menjadi terus lebih baik.

Di sinilah pentingnya arti tarbiyah. Pembinaan diri sebagaimana pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap para sahabatnya. Pembinaan yang berbasis multi dimensi, dimensi intelektual (dengan majelis-majelis ilmu),dimensi spiritual (dengan wejangan dan taushiyah serta dengan doa dan shalat), dimensi fisik (dengan latihan penguatan fisik dan implementasi jihad memproteksi dakwah ini), dimensi sosial (dengan menumbuhkan rasa persaudaraan, solidaritas, kerja sama dalam berbagai dan banyak hal). Selain itu juga dididik untuk teratur dan tertata dalam menyusun berbagai strategi dakwah. Peristiwa Hudaibiyah bisa diambil sampel kejelian siasat dakwah di tengah kecongkakan tokoh-tokoh antagonis dakwah ini.

Bila tarbiyah model seperti ini dilakukan oleh Nabi kita, mengapa tak kita coba aplikasikan? Dengan segala keterbatasan, sangat mungkin untuk membina berbagai potensi kebaikan yang ada pada diri kita untuk menumbuhkembangkan kemanfaatan di tengah masyarakat kita.

Dalam sekup mikro -di Mesir- bisa kita gunakan untuk ikut membantu mengurangi ketimpangan fluktuasi mental kita. Baik dalam mempertahankan semangat menuntut ilmu atau pun mengembangkan berbagai potensi sesuai kecenderungan dan bakat yang kita sukai dan miliki. Group value semacam ini juga yang akan ikut mengontrol kita. Membantu kita untuk tetap sadar dan mengingat pesan orang tua dan para kyai serta guru-guru kita. Karena sudah barang tentu mereka semua menginginkan potensi kebaikan dalam diri kita terus berkembang. Berkembang dengan berbagai prestasi kita. Kesalihan individu yang dibarengi prestasi sosial yang apik.

Namun, tak semua kita menyadari betul konsep semacam ini. Alih-alih memupukgroup value yang seperti ini, bisa jadi menjadi antipati atau bahkan menjadi sangat phobia. Hal tersebut bisa jadi dikarenakan perbedaan cara pandang atau mungkin dikarenakan adanya sentimentil terhadap sebuah simbol pelaksananya.Wallahu a’lam.

Parahnya jika kemudian serangkaian amal mutawashil (kerja kontinyu) tadi dikambinghitamkan sebagai biang keladi mandegnya intelektualitas. Yang perlu dipertanyakan adalah dari mana premis semacam ini muncul? Diolah dari sampel data-data yang seperti apa? Sebelum dipertanyakan tolok ukur mandeg tidaknya gerakan intelektual.

Justru dengan memelihara group value, kita bisa saling berkompetisi secara sehat untuk meraih prestasi setinggi-tingginya di kuliah. Saling bertukar informasi dan menyemangati dalam mengejar dan mengoptimalkan berbagai potensi ketrampilan yang kita miliki.

Sebelum diambil premis miring seperti tadi seharusnya kita tanyakan benarkah tarbiyah seperti di atas menyumbat potensi intelektual kita. Atau redaksi yang lebih kasar menjadi pengebiri dan penggembos dinamika intelektual Masisir (baca: Mahasiswa Indonesia di Mesir). Bila standar kesuksesan intelektual bisa dikiaskan dengan prestasi akademis selaiknya kita tanya mereka yang meraihnya kemudian kita bandingkan dengan premis kita.

Lingkungan kita –saya yakin- tidaklah seburuk zaman Fir’aun atau zaman jahiliyah Arab. Pada zaman itu pun lahir dan tumbuh para tokoh-tokoh yang memimpin peradaban. Seharusnya kita optimis dan terus memiliki pandangan obsesif dengan masyarakat kita. Bahwa peran alumni Mesir di Indonesia kelak bisa lebih baik dari sekarang. Dan salah satu sarananya adalah dengan menanamkan dan mengembangkan potensi kebaikan dengan tarbiyah (pembinaan diri dan lingkungan).

Jika kita merasa bahwa kita harus menjaga potensi kebaikan ini. Mungkin kita bisa menilik contoh sejarah yang dituturkan oleh sahabat Handhalah ra. yang merasakan fluktuasi mental saat berada di luar majelis Rasulullas saw. seolah-olah beliau merasa jauh dari sebuah situasi yang ideal. Berbeda dengan ketika beliau ada di depan Rasulullah saw, seolah hawa surga dan neraka terasa dan menjadi demikian indahnya beriman dan berislam. Namun, kenapa seolah semuanya menguap saat berjauhan dengan Rasulullah saw. Kondisi ini pun kemudian beliau bahasakan dengan munafiq. Beliau adukan pada sahabat Abu Bakar dan Umar. Mereka bertiga pun akhirnya menghadap Rasulullah. Apa kata Rasul menyikapi kegundahan para sahabatnya? Ya Handhalah… sâ’ah wa sâ’ah. Pelan-pelan.

Belajar dari kondisi tersebut. Proses pembinaan yang bernafas panjang ini perlu kita kristalkan dalam diri kita dengan terus membina kedewasaan. Kedewasaan yang tak bisa diukur dengan usia, juga dengan segudang aktivitas yang kita lakukan setiap hari. Siapapun kita, tetap rentan fluktuasi tersebut. Kita perlu berjaga dan sebisa mungkin meminimalisir jurang fluktuasi mental tersebut.

Jika lingkungan kita baik, sungguh sangat merugi bila kita tak bisa setidaknya ikut menjadi baik dengan lingkungan tersebut. Jika ada beberapa kondisi sebaliknya, maka seharusnya kita mati-matian untuk tidak terseret dalam arus tersebut. Bahkan, menjadi kewajiban kita untuk mengubahnya dengan amar makruf nahi mungkar. Serta kemudian mencari bibit-bibit kebaikan yang bisa diajak kerja sama untuk memperbaiki lingkungan yang sementara mengalami disorientasi sosial. Meski kita bukan Nabi, tapi kita bisa meniru apa yang dilakukan oleh Nabi kita, juga para pendahulunya. Bahkan jika suasananya harus seburuk zaman Fir’aun. Nabi Musa justru tumbuh dan besar di sana, serta merekrut juru dakwahnya dari orang dekat istana dan istri tercinta sang icon kezhaliman. Nabi Muhammad juga mampu mengembangkan potensi kebaikan seorang Umar dan Abu Dzar untuk menutup masa lalu mereka.Apalagi jika masyarakat kita adalah para penuntut ilmu.

Mendewasakan diri dengan lingkungan maksudnya dengan membentuk pribadi-pribadi yang kuat. Pribadi yang tangguh yang tak mudah tunduk dan terbawa arus lingkungan. Pribadi yang tak melulu menyalahkan lingkungan saat dirinya terjatuh. Juga bukan pribadi yang menertawakan lingkungan saat masyarakat sudah sedikit melenceng dari obsesi idealisme. Juga bukan mereka yang hanya sibuk mencari kambing hitam saat ada problem mencuat dan menggejala. Juga bukan mereka yang hanya sedih dan gundah saat melihat kompleksnya permasalahan tanpa sedikit pun melakukan tindakan dan mencari solusinya. Dan juga bukan pribadi yang hanya bermulut besar dengan mengaku sebagai pahlawan saat masalah tersebut terpecahkan.

Namun, pribadi yang diharapkan adalah pribadi yang sanggup mewarnai lingkungannya. Pribadi yang kelak akan menjelma sebagai pemimpin. Yangyu`atstsir wa lâ yata`atstsar (berpengaruh tapi tidak mudah terpengaruh). Pribadi semacam ini takkan pernah menyerah dengan lingkungan. Ia akan eksis dan semakin kuat dengan lingkungan yang baik. Jika lingkungan masih belum baik, minimalnya ia mampu memproteksi diri dari polusi lingkungan tersebut. Bahkan ia mulai merancang untuk membawa lingkungan tersebut untuk lebih kondusif dan lebih baik lagi serta lebih menjadi komunitas yang bermanfaat.

Untuk mengetahui sumber kebaikan ini, ada baiknya kita dengar perkataan Muhammad Ahmad Rasyid dalam bukunya ar-Raqâ`iq, ”Bila hati merupakan parameter utama dari baik dan buruknya seseorang, maka ikhtiar untuk mengasah dan menempa hati agar cenderung pada kebaikan merupakan amal yang sangat agung.” Karena salah satu syarat untuk menemukan miliu dan komunitas yang baik, seseorang selaiknya berusaha menjadi baik atau setidaknya bersabar bersama orang-orang yang baik untuk kemudian mampu menjadi seperti orang-orang baik itu atau lebih baik. (QS. al-Kahfi: 28). Al-Qur’an membahasakannya dengan washbir, ini menunjukkan bahwa jalan ini tidaklah mudah. Tentu ada rintangan. Setidaknya berupa cemoohan, hardikan dan celaan sebelum ancaman fisik. Karena jalan ini sudah pernah dilalui oleh para pendahulu kita baik para nabi atau pun para dai.

Nuansa spiritual memang suatu saat akan terasa kental saat kita duduk bersama dengan teman-teman kita. Bersama mengoreksi raihan prestasi, bukan untuk dibanggakan namun lebih untuk dievaluasi dan dikembangkan. Juga mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Barangkali ini tak jauh dari temuan Victor Frankl saat masuk dalam kamp konsentrasi NAZI, dia sempat mengamati ada para penghuni kamp yang mampu bertahan di tengah kondisi yang sangat berat. Ancaman kematian jelas-jelas ada di depan mata.

Kemampuan survive seperti itu tentu saja menarik perhatian Frankl. Mengapa mereka bisa bertahan? Ternyata mereka memiliki semangat untuk hidup dan mencari makna hidup di tengah situasi semacam itu (search for meaning). Dari situlah kemudian Frankl menganggap bahwa eksistensi manusia itu ditentukan oleh tiga hal: kebebasan (freedom), tanggung jawab (responsibility) dan keruhanian (spirituality).

Kebebasan tersebut kita artikan ekspresi diri kita untuk sukses kapan saja, dimana saja dan sebagai apa serta siapa saja. Tanggung jawab tersebut merupakan kesiapan memikul dan melakukan kerja kontinyu dakwah yang ada. Serta aspek keruhanian bisa dimaknai dengan penempaan diri baik secara individu maupun kolektif merupakan unsur spiritual yang berfungsi sebagai pengasahan emosional secara seimbang.

Gampangnya seperti ini; jika kita menemukan diri kita berada dalam sebuah komunitas yang terjebak pada rutinitas, mengapa tak kita coba untuk menengok potensi kebaikan yang ada di lingkungan lain. Untuk segera mengentaskan kejenuhan yang berakibat pada pelampiasan negatif sehingga bisa meminimalisir akibat yang kurang baik. Nantinya berbagai potensi kebaikan tersebut bisa disinergikan. Sehingga tak akan berubah jadi sikap saling tuding bila ada yang sedikit eror terjadi pada masyarakat kita.

Lingkungan pesepakbola perlu menengok potensi kebaikan para aktivis organisasi, juga sebaliknya. Para kutu buku perlu bertukar pikiran dan berdialog dengan para pekerja sosial. Para birokrat dan pejabat perlu lebih dekat dengan dunia mayoritas rakyat sehingga bisa mendiagnosa permasalahan dan menemukan solusinya dengan bijak. Pada akhirnya miliu ideal yang didambakan akan terwujud, dengan berbagai keterbatasan yang ada. Karena semua tentu menginginkan kebaikan hanya perbedaan persepsilah yang kemudian seolah membelah orientasi tersebut. Renungan singkat ini saya akhiri dengan ajakan untuk sama-sama mendewasakan diri dengan memperbanyak melihat potensi positif masyarakat dan mengembangkannya dengan kerjasama. Dan bukan dengan budaya memberikan stigma dan main tuduh. Akhirnya, hanya Allah lah yang tahu muara amal kita. Semoga semakin besar kemanfaatan yang dirasakan masyarakat sekeliling kita. Amin.

Source : http://saifulelsaba.wordpress.com/2008/10/

Posted on Maret 1, 2013, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: